2 Jenis Lalat yang Sangat Berbahaya dan Mematikan

 2 Jenis Lalat yang Sangat Berbahaya dan Mematikan

Lalat merupakan serangga kecil yang biasa kita jumpai, siapa yang tidak kenal dengan lalat, serangga yang satu ini cukup menyebalkan karena sangat menggangu ditambah lagi bila lalat hinggap pada makanan maka akan beresiko sakit perut.
disini saya akan membahas 2 jenis lalat yang sangat berbahaya..ingat sangat berbahaya...!!!karena kedua jenis lalat ini berbeda dengan yang sering kita jumpai. lalat ini bisa berakibat sampai dengan kematian. seram bukan?
nah mari kita lihat 2 jenis lalat apa sajakah itu...



1.Lalat Bot (Family Oestridae, Genus dan Species Bervariasi)
     Asal : Amerika Tengah dan Amerika Selatan



 
Lalat bot merupakan lalat yang sangat mengerikan ! Yaa sangat mengerikan ! Kenapa ? Karena mereka mampu berkembang biak menjadi spesies khusus sampai ada nama khusus misal : lalat bot perut kuda, lalat bot hidung kambing, dan yang paling mengerikan adalah LALAT BOT MANUSIA !

Masing-masing lalat bot memiliki berbagai macam siklus reproduksi mengerikan dan setiap akhir dari siklus ini akan ada seekor belatung besar dan gemuk yang akan menempelkan diri di daging hidup masing-masing inangnya. Tidak sekedar menempel, mereka juga memakan daging inang ini hidup-hidup.

Seperti lalat bot perut kuda, akan meletakan telur mereka di rerumputan. Kuda yang memakan rumput itu sekaligus akan memakan telur tersebut. Telur itu kemudian akan menetas di mulut kuda karena panas tubuh kuda. Kemudian akan masuk ke dalam tubuh kuda dan akan membuat lubang-lubang kecil di perut kuda sampai puas dan menjadi gemuk. Setelah siap mereka akan mengikuti sistem pencernaan kuda dan akan menjadi lalat setelah keluar dari tubuh kuda yang akan siap membuat siklus baru sama seperti itu.

Lalat Bot Manusia, akan menaruh telur mereka di tubuh lalat biasa atau nyamuk yang tentunya akan mendarat di tubuh manusia. Ketika mendarat di tubuh manusia, telur itu secara tidak sengaja akan jatuh di tubuh manusia dan karena panas tubuh manusia telur itu akan menetas menjadi larva. Larva tersebut akan masuk ke dalam kulit dan tumbuh besar di bawah kulit dengan perlahan memakan daging manusia.

Segitu saja ? Tidak ! Larva ini tidak tinggal diam dan tidak pemilih. Mereka dapat tumbuh di manapun tergantung di mana telur tadi jatuh. Dengan kata lain, bisa di hidung, di kepala bahkan di otak.


2. Lalat Tsetse
    Asal : Afrika
Lalat Tsetse ,lalat yang menggigit berukuran besar dari Afrika yang hidup dari darah vertebrata. Tsetse mencakup semua spesies dalam genus Glossina, yang biasanya digolongkan dalam famili tersendiri, Glossinidae.

Tsetse merupakan vektor penyakit trypanosomiasis, yang menyerang manusia dan binatang ternak.
Tsetse adalah lalat raksasa dari Afrika, panjang tubuhnya dapat mencapai 1,6 cm dari ujung kepala hingga ekor. Warnanya tubuhnya bervariasi antara coklat muda dan coklat tua dan mempunyai dua antena di bagian kepalanya, sehingga perbedaanya akan tampak mencolok dibandingkan dengan lalat biasa. Saat tidak terbang kedua sayapnya dilipat secara bertumpuk diatas tubuhnya.

Fosil tertua dari lalat jenis ini pernah ditemukan di Colorado, dan setelah dianalisa usianya lebih dari 30 juta tahun yang lalu, sehingga Tsetse tergolong binatang purba yang masih eksis hingga saat ini.
Namun mengingat Tsetse adalah makhluk yang berbahaya dan dapat berkembang biak dengan pesat, maka tidak diperlukan adanya upaya untuk melestarikan binatang ini.

Tsetse adalah carrier (pembawa) bagi parasit Trypanosomiasis, jadi Tsetse tidak menghasilkan racun dan tidak berbahaya sebelum ia sendiri tertular Trypanosomiasis. Lalat ini suka menghisap darah, apabila darah korbannya telah terinfeksi Trypanosomiasis maka Tsetse akan tertular parasit tersebut dan dapat menyebarkan ke korban-korban berikutnya yang dihisap darahnya, karena air liur dari lalat ini ikut masuk kedalam lubang gigitan saat ia menghisap darah.

Parasit Trypanosomiasis, menyebabkan demam, migrain dan menimbulkan kantuk yang luar biasa. Korban dapat tertidur (biasanya disebut Sleeping Sickness), dan bila tidak segera disembuhkan maka korbannya tidak akan pernah bangun lagi (meninggal). Binatang ataupun manusia dapat terinfeksi parasit ini dan juga dapat saling menularkan dengan perantara Tsetse.
Saat ini Suramin diberikan bagi pasien yang terdiagnosa dini, Eflornithine atau Pentamidine pada penderita yang agak lambat terdiagnosa, Melarsoprol diberikan bagi pasien yang telah terinfeksi lebih parah, namun makin lama pasien terdiagnosa dan tertolong, makin kecil pulalah peluang untuk selamat.

Cara pencegahan yang utama adalah tentu saja berusaha agar tidak tergigit oleh Tsetse, hindari wilayah yang merupakan habitat Tsetse, kemudian berusaha agar tubuh senantiasa fit dan sehat, Trypanosomiasis secara natural dapat terbasmi oleh kekebalan tubuh yang baik. Celakanya korban gigitan baik yang selamat karena memiliki kekebalan tubuh yang baik atau yang berhasil diobatipun telah menjadi carrier bagi Trypanosomiasis, sehingga berpotensi menularkan penyakitnya melalui transfusi atau perantara Tsetse.

Tsetse hidup di daerah berair seperti danau, rawa, dan juga wilayah hutan atau padang rumput yang lembab. Masa hidupnya adalah sekitar 30 hingga 90 hari, namun dalam masa hidupnya yang pendek itu Tsetse dapat menyebarkan petaka pada banyak korbannya. Diperkirakan hampir 300 ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat parasit Trypanosomiasis, akibat kurangnya obat-obatan dan keterlambatan diagnosa.

nah sebaiknya kita tetap waspada bila mungkin saja kita menjumpai lalat tersebut kalu menurut saya sih sebaiknya dibasmi saja...daripada beresiko tinggi...untuk ingin melihat akibat dari serangan lalat lalat tersebut anda bisa cari sendiri di mbah google..maaf saya tidak bisa memperlhatkan efek dari serangan lalat tersebut abisnya ga kuat ngilu liatnya....